Posted in

Narasi: Kenapa Banyak Siswa SMAN 72 Memilih Pindah? Apakah Tinggal Justru Lebih Baik?

Ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta bukan sekadar peristiwa fisik yang melukai bangunan dan melumpuhkan aktivitas belajar. Bagi banyak siswa, peristiwa itu menimbulkan luka batin yang jauh lebih dalam—luka yang tidak selalu terlihat, namun terasa setiap kali mereka menginjakkan kaki kembali ke sekolah.

Setelah insiden tersebut, muncul gelombang permintaan pindah sekolah. Keputusan ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa alasan kuat mengapa sebagian siswa merasa mereka harus meninggalkan sekolah yang selama ini menjadi rumah kedua mereka.

1. Trauma dan Ketidaknyamanan Psikologis

Bagi sebagian siswa, ledakan itu menciptakan memori tertentu: suara keras, kepanikan, tangisan teman-teman, atau rasa tidak aman.
Saat mereka kembali ke lingkungan yang sama, memori itu ikut kembali.
Kelas yang sama, lorong yang sama, bahkan aroma ruangan dapat menjadi pemicu kecemasan.

Mereka berpikir:

“Bagaimana kalau kejadian seperti itu terulang?”
“Apakah aku bisa benar-benar fokus belajar di tempat yang membuatku takut?”

Kondisi psikologis seperti ini membuat pindah sekolah tampak seperti satu-satunya cara untuk kembali merasa aman.

2. Tekanan Emosional dan Lingkungan yang Mengingatkan

Ledakan tak hanya meninggalkan trauma, tetapi juga menghadirkan atmosfer baru di sekolah: kecemasan kolektif, bisik-bisik, diskusi tidak berujung tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa siswa mungkin merasa:

  • tidak nyaman menghadapi tekanan sosial,
  • sulit menenangkan diri,
  • atau tidak ingin terus-menerus diingatkan pada kejadian tersebut.

Pindah sekolah dianggap sebagai jalan untuk memulai dari awal tanpa bayang-bayang peristiwa traumatis.

3. Kekhawatiran Orang Tua

Keinginan pindah juga banyak berasal dari kekhawatiran orang tua.
Sebagian orang tua merasa sekolah tidak lagi cukup aman, meskipun pemerintah sudah memberikan jaminan.

Dari perspektif orang tua:

“Keselamatan anak lebih penting dari apa pun.”

Mereka mungkin merasa lebih tenang jika anak belajar di lingkungan baru dengan kondisi yang lebih stabil.


Namun, Apakah Pindah Sekolah Selalu Pilihan Terbaik?

Tidak selalu.

Ada beberapa pertimbangan serius mengapa tetap tinggal juga bisa menjadi pilihan yang lebih baik — asalkan dukungan yang tepat tersedia.

1. Lingkungan yang Familiar Membantu Pemulihan

Meninggalkan lingkungan yang sudah dikenal kadang justru memperburuk rasa kehilangan atau meningkatkan kecemasan.
Memulihkan trauma di tempat yang familiar—bersama guru, teman, dan sistem yang sudah dikenal—sering kali lebih efektif daripada memulai dari nol.

2. Sekolah Menyiapkan Pemulihan Psikologis

Pemerintah dan sekolah sudah menyiapkan:

  • sesi konseling dengan psikolog,
  • pendampingan wali kelas,
  • opsi pembelajaran tatap muka atau daring,
  • serta pertemuan dengan orang tua untuk menentukan langkah terbaik.

Dengan dukungan seperti ini, banyak siswa justru bisa mengatasi trauma tanpa harus pindah.

3. Pindah Bukan Jaminan Hilangnya Trauma

Meskipun pindah memberi suasana baru, trauma bukan berasal dari gedung sekolah—tetapi dari pengalaman.
Jika tidak ditangani, perasaan cemas bisa muncul lagi di tempat baru.


Kesimpulan: Pilihannya Bukan Sekadar Pindah atau Tinggal

Keputusan untuk pindah sekolah sangat personal.
Bagi sebagian siswa, pindah menjadi cara untuk kembali merasa aman.
Bagi siswa lain, tetap tinggal adalah langkah terbaik untuk pulih dengan dukungan komunitas yang ada.

Yang terpenting adalah:

  • kesehatan mental siswa,
  • dukungan dari sekolah,
  • keterlibatan orang tua,
  • serta strategi pemulihan yang manusiawi dan berkelanjutan.